[INDONESIA TRANSLATE] Intermediate Accounting IFRS Edition – Chapter 17 Investment [Kieso, Weygandt and Warfield] from California Univ, Santa Barbara | Part.2

Published April 16, 2012 by seilyariskyu

UTANG INVESTASI – NILAI WAJAR
Nilai wajar pada Utang Investasi pada nilai wajar mengikuti entri akuntansi yang sama sebagai investasi hutang yang dimiliki-untuk-koleksi selama periode pelaporan. Artinya, mereka dicatat dalam biaya.

Namun pada setiap tanggal pelaporan, perusahaan melakukan :
 Menyesuaikan Biaya Amortisasi dengan Nilai Wajar
 Keuntungan atau rugi belum direalisasi, dilaporkan sebagai bagian dari laba bersih (metode nilai wajar)

Ilustrasi :
Perusahaan Robinson membeli $ 100.000 dari obligasi 8% dari Evermaster Perusahaan pada tanggal 1 Januari 2011, harga diskon, membayar $ 92.278. Obligasi akan jatuh tempo 1 Januari 2016 & menghasilkan 10% bunga pinjaman dibayar setiap tanggal 1 Juli dan 1 Januari.

Entri jurnal pada tahun 2011 persis sama dengan yang untuk biaya amortisasi

1 Januari 2011

Utang Investasi (D) 92.287
Kas (K) 92.287

1 Juli 2011

Kas (D) 4.000
Utang Investasi (D) 614
Pendapatan Bunga (K) 4.614

31 Desember 2011
Piutang Bunga (D) 4.000
Utang Investasi (D) 645
Pendapatan Bunga (K) 4.645

Ilustrasi :
Ilustrasi: Untuk menerapkan pendekatan nilai wajar, Robinson menentukan bahwa, karena penurunan suku bunga, nilai wajar dari investasi utang meningkat menjadi $ 95.000 pada tanggal 31 Desember 2011.

Nilai Wajar 31 Desember 2011 $95.000
Biaya Amortisasi 31 Desember 2011 93.537 _
Laba/Rugi yg belum direalisasi $1.463

Penyesiaian Nilai Wajar (D) 1,463
Laba/Rugi yang belum direalisasi (K) 1,463

PENYAJIAN DI LAPORAN KEUANGAN
LAPORAN KEUANGAN

INVESTASI
Utang Investasi $95.000
AKTIVA LANCAR
Piutang Bunga $ 4.000
LAPORAN LABA RUGI

PENDAPATAN LAIN DAN BEBAN
Pendapatan Bunga ($4.614+$4.645) $ 9.259
Laba/Rugi yg belum direalisasi $ 1.463

Ilustrasi :
Pada tanggal 31 Desember 2012, mengasumsikan
bahwa nilai wajar dari investasi utang Evermaster adalah $ 94.000.

Laba/Rugi yang belum direalisasi (D) 2,388
Penyesiaian Nilai Wajar (K) 2,388

PENYAJIAN DI LAPORAN KEUANGAN

LAPORAN KEUANGAN
INVESTASI
Utang Investasi $94.000
AKTIVA LANCAR
Piutang Bunga $ 4.000

LAPORAN LABA RUGI
PENDAPATAN LAIN DAN BEBAN
Pendapatan Bunga ($4.614+$4.645) $ 9.388
Laba/Rugi yg belum direalisasi ($ 2,388)

Ilustrasi :
Asumsikan sekarang Robinson menjual investasinya di obligasi Evermaster pada tanggal 1 November, 2013sebesar 99 ¾ ditambah bunga akrual. Perbedaan hanya terjadi pada 31 Desember 2013. Karena obligasi tidak lagi dimiliki oleh Robinson, Nilai rekening sekarang harus dilaporkan nihil. Robinson membuat entri berikut untuk mencatat penghapusan account penilaian.

Penyesiaian Nilai Wajar (D) 1925
Laba/Rugi yang belum direalisasi (K) 1925

Illustration (Portfolio of Securities) :
Webb membuat jurnal penyesuaian pada tanggal 31 Desember 2011 untuk mencatat penurunan nilai dan untuk kerugian sebagai berikut.

Laba/Rugi yang belum direalisasi (D) 3,573
Penyesiaian Nilai Wajar (K) 3,573

Illustration (Sale of Debt Investments) :
Webb Corporation menjual obligasi Watson (dari Ilustrasi 17-10) pada tanggal 1 Juli 2012,sebesar $ 90.000, pada waktu itu memiliki biaya perolehan diamortisasi dari $ 94,214.

Kas (D) 90,000
Rugi Penjualan Utang Investasi (D) 4,214
Utang Investasi (K) 94,214

Scoure : Intermediate Accounting IFRS Edition
Kieso, Weygandt, and Warfield

Translator Team : Mahasiswa D3 Ekonomi Akuntansi, Univesitas Jambi
Kelas 4.B Tahun 2012 [Riska Haryati Seilya, Weny Kurniati, Saskia Tri Utami and Mega Wati]

Credit by : Riska Haryati Seilya
Posted by : @seilyariskyu [www.riskaseilya.wordpress.com]
TAKE OUT WITH FULL & PROPER CREDIT
ALWAYS CREDIT ‘RISKASEILYA.WORDPRESS.COM’ AS WELL. Thank you

120416 Official Pictures – Super Junior KANGIN IS BACK from Millitary [18P]

Published April 16, 2012 by seilyariskyu

Credit: as tagged
Reupload & Posted by: supergirlRain (sup3rjunior.wordpress.com)
Posted by : @seilyariskyu [www.riskaseilya.wordpress.com]
TAKE OUT WITH FULL & PROPER CREDIT
CREDIT ‘RISKASEILYA.WORDPRESS.COM’ AS WELL. Thank you

120403 AUDIT TERHADAP SIKLUS PRODUKSI PENGUJIAN DAN PENGENDALIAN TERHADAP SALDO SEDIAAN | Part.2

Published April 3, 2012 by seilyariskyu

120403 AUDIT TERHADAP SIKLUS PRODUKSI PENGUJIAN DAN PENGENDALIAN TERHADAP SALDO SEDIAAN | Part.1

KLIK http://t.co/xFqSBSHw

 

2.3 PENGUJIAN TERHADAP SALDO AKUN RINCI

a)     Pangamatan terhadap perhitungan fisik sediaan dilakukan untuk membuktikan asersi :

  1. Keberadan dan keterjadian
  2. Kelengkapan
  3. Penialaian sediaan

Auditor melakukan pengamatan terhadap perhitungan fisik sediaan. Prosedur audit yang ditempuh oleh auditor dalam melaksanakan pengamatan terhadap perhitungan fisik sediaan ialah:

  1. Memeriksa instruksi tertulis mengenai perhitungan fisik sediaan
  2. Melakukan pengamatan terhadap perhitungan fisik sediaan yang dilakukan oleh klien

 Periksa instruksi tertulis mengenai perhitungan fisik sediaan. Instruksi tertulis mengenai perhitungan fisik sediaan sebaiknya disusun bersama antara klien dengan auditor independen, sehingga jika instruksi tersebut digunakan untuk melaksanakan perhitungan fisik sediaan, tidak terjadi pengajuan keberatan-keberatan oleh auditor karena pertimbangan ketelitian dan keandalan prosedur perhitungan atas sediaan.

 
Lakukan pengamatan terhadap penghitungan fisik sediaan yang dilakukan oleh klien. Penghitungan fisik sediaan merupakan prosedur yang harus dilaksanakan oleh klien untuk menjamin ketelitian data sediaan yang dicatat di dalam catatan akutansinya. Pengamatan terhadap perhitungan fisik sediaan dilaksanakan oleh auditor dengan tujuan;

  1. Untuk menguji efektivitas pengendalian intern terhadap sediaan
  2. Untuk menguji kewajaran informasi sediaan yang di cantumkan di neraca.

Pengamatan terhadap perhitungan fisik sediaan disebut dual purpose test yaitu pengujian yang mempunyai tujuan ganda. Dalam prosedur pengamatan terhadap perhitungan fisik sediaan ini, auditor melakukan kegiatan ini;

  • Melakukan hitung uji (test count)  terhadap perhitungan fisik yang dilakukan oleh klien.
  • Melakukan compilation test, yaitu pengujian penyalinan data di dalam kartu penghitungan fisik (inventory tags) kedalam daftar hasil perhitungan fisik  (inventory summary sheets.
  • Melakukan pricing test, yaitu pengujian pencantuman kos persatuan setiap jenis sediaan yang di cantumkan didalam daftar hasil perhitungan fisik dan perkalian kos persatuan tersebut dengan kuantitas hasil perhitungan fisik sediaan.
  • Melakukan adjustment test, yaitu pengujian adjustment yang dilakukan oleh klien terhadap data sediaan didalam kartu sediaan atas dasar  data yang tercantum didalam daftar hasil perhitungan fisik.


b)     Kirimkan Surat Konfirmasi Sediaan yang Disimpan di Gudang Pihak Luar

Untuk memperoleh keyakinan tentang eksistensi sediaan klien yang disimpan di gudang luar, auditor perlu mengirim kan surat konfirmasi kepada perusaahan yang menyimpan sediaan tersebut. Prosedur audit ini ditunjukkan untuk membuktikan asersi berikut ini;

  1. Keberadaan atau kejadian
  2. Kelengkapan
  3. Hak kepemilikan

 

Mintalah informasi mengenai barang-barang klien yang dijual secara konsinyasi dan barang-barang titipan yang ada ditangan klien. Laporan penjualan barang konsinyasi yang diterima oleh klien dari perusahaan yang dititipi barang merupakan sumber informasi untuk mengetahui sediaan klien yang berada di tangan perusahaan lain. Copy laporan penjualan barang titipan yang dibuat klien untuk perusahaan yang menitipkan barang merupakan sumber informasi untuk mengetahui sediaan yang ada ditangan klien namun bukan merupakan milik klien.

 

Mintalah informasi mengenai sediaan yang dijadikan jaminan penarikan utang. Informsai mengenai sediaan klien yang dijaminkan dalam penarikan utang dapat diperoleh auditor dengan cara mewawancarai manajer keuangan dan me-review jawaban konfirmasi dari bank.

 

Lakukan pengujian terhadap penilaian sediaan. Mintalah informasi mengenai metode penilaian sediaan yang digunakan oleh klien. Menurut prinsip akutansi berterima umum,sediaan diasajikan di neraca sebesar nilai nya pada tanggal neraca. Terdapat 3 metode penilaian harga pasar, kos historis, dan lower of cost or market.

 

Periksa kesesuaian kos per satuan sediaan dengan prinsip akutansi berterima umum.

 

Periksa catatan pendukung yang bersangkutan dengan data kos per satuan sediaan.

 

 Bandingakan laba bruto tahun yang di audit dengan laba bruto tahun sebelumnya. Pembandingan laba bruto tahun yang diaudit dengan laba bruto tahun sbelumnya digunakan sbagai dasar untuk menilai kewajaran nialai sediaan barang dagangan dengan menggunakan laba bruto (gross profit method).

 

Lakukan pengamatan terhadap unsur sedian yang rusak. Hitung tingkat perputaran sediaan dan bandingkan dengan tingkat perputaran sediaan tahun sebelumnya.

 

Lakukan pengamatan terhadap sediaan yang lambat pemakaiannya atau penjualannya. Pengamatan terhadap sediaan yang lambat pemakaiannya atau penjualannya harus dilakukan karena sediaan tersebut akan mempunyai nilai yag berkurang dari kos perolehannya.

 

Mintalah surat representasi dari klien. Surat ini digunakan oleh auditor untuk menyadarkan klien bahwa tanggung jawab atas kewajaran informasi yang disajikan di dalam laporan keuangan berada di tangan klien bukan ditangan auditor. Surat ini berisi pernyataan klien mengenai sediaan yang disajikan di neraca.

 

c)     Pemeriksaan Penyajian dan Pengungkapan Sediaan Dineraca

  1. Periksa klasifikasi klasifikasi sediaan dineraca.
  2. Periksa pengungkapan yang bersangkutan dengan sediaan.
  3. Lakukan analytical review (review menyeluruh) terhadap sediaan.

 

 

Credit by : Riska Haryati Seilya

Posted by : @seilyariskyu [www.riskaseilya.wordpress.com]

TAKE OUT WITH FULL & PROPER CREDIT

ALWAYS CREDIT ‘RISKASEILYA.WORDPRESS.COM’ AS WELL. Thank you

 

120403 AUDIT TERHADAP SIKLUS PRODUKSI PENGUJIAN DAN PENGENDALIAN TERHADAP SALDO SEDIAAN | Part.1

Published April 3, 2012 by seilyariskyu

BAB.I

PENDAHULUAN

 

1.1 DISKRIPSI SEDIAAN

Sediaan merupakan unsur aktiva yang disimpan dengan tujuan untuk dijual dalam kegiatan bisnis yang normal ataupun barang-barang yang akan dikonsumsi dalam pengolahan produk yang akan dikonsumsi dalam pengolahan produk yang akan dijual. Didalam perusahaan dagang, sediaan terutama terdiri dari sediaan barang dagang. Sedangkan dalam perusahaan manufaktur sediaan terdiri dari sediaan bahan baku dan bahan penolong, sediaan produk dalam proses, sediaan produk jadi, sediaan suku cadang dan bahan habis pakai pabrik.

Sediaan umumnya mendapat perhatian yang lebih besar dari auditordidalam proses auditnya karena berbagai alasan, sebagai berikut :

  • Umumnya sediaan merupakan komponen aktiva lancar yang jumlahnya cukup material dan merupakan objek manipulasi serta tepat terjadinya kesalahan-kesalahan besar.
  • Penentuan besarnya nilai sendiaan secara langsung mempengaruhi kos barang yang dijual sehingga berpengaruh pula terhadap perhitungan laba tahun yang bersangkutan.
  • Vertifikasi kuantitas, kondisi dan nilai sediaan merupakan tugas yang lebih kompleks dan sulit dibandingkan dengan vertifikasi sebagaian besar unsur laporan keuangan yang lain.
  • Seringkali sediaan disimpan di berbagai tempat sehingga menyulitkan pengawasan dan penghitungan fisiknya.
  • Adanya berbagai macam sediaan menimbulkan kesulitan bagi auditor dalam melaksanakan auditnya.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah yang akan diangkat dalam makalah ini yaitu:

  1. Apa saja prinsip akuntansi berterima umum dalam penyajian sediaan dalam neraca.
  2. Apa-apa yang menjadi tujuan pengujian substantif terhadap sediaan.
  3. Apa saja yang menjadi program pengujian substantif terhadap saldo sediaan.

1.3 TUJUAN PEMBUATAN MAKALAH

Makalah ini kami buat dengan tujuan sebagai pertanggung jawaban tertulis dari seseorang /sekelompok orang yang diberi tugas kepada pemberi tugas. Kami juga berharap dengan makalah ini dapat bemanfaat bagi pembaca yang memerlukan informasi mengenai audit terhadap siklus produksi: pengujian dan pengendalian substantive terhadap saldo sediaan. Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan makalah ini yaitu:

  1. Untuk mengetahui prinsip akuntansi berterima umum dalam penyajian sediaan dalam neraca.
  2. Untuk mengetahui tujuan pengujian substantive terhadap sediaan
  3. Untuk mengetahui program pengujian substantif terhadap saldo sediaan.

BAB.II

POKOK BAHASAN

 

2.1 PRINSIP AKUNTANSI BERTERIMA UMUM DALAM PENYAJIAN SEDIAAN DALAM NERACA

Sebelum membahas pengujian substantif terhadap sediaan, perlu diketahui lebih dahulu prinsip akuntansi berterima umum dalam penyajian sediaan di neraca berikut ini :

  1. Laporan keuangan harus menjelaskan bahwa sediaan dinilai dengan lower of cost or market dan harus menyebutkan metode yang digunakan dalam menentukan kos sediaan.
  2. Jika sediaan dinyatakan pada kosnya, nilai pasarnya pada tanggal neraca harus dicantumkan dalam tanda kurung, dan jika sediaan diturunkan nilai pada harga pasarnya, kosnya harus dicantumkan dalam tanda kurung juga. Kos pengganti ini (current replacement cost) harus dicantumkan dalam laporan keuangan untuk sediaan yang kosnya ditentukan berdasarkan metode masuk terakhir keluar pertama (MTKP/LIFO).
  3. Akibat perubahan metode penilaian sediaan terhadap perhitungan rugi laba tahun yang diaudit harus dijelaskan dalam laporan keuangan dan auditor harus menyatakan pengecualian mengenai konsistensi penerapan prisip akuntansi berterima umum dalam laporan audit.
  4. Penjelasan yang lengkap harus dibuat dalam laporan keuangan jika sediaan digadaikan sebagai jaminan utang yang ditarik oleh klien.
  5. Jika jumlahnya material, sediaan dalam perusahaan manufaktur harus dikelompokkan dalam kelompok  utama yaitu sediaan produk jadi, sediaan produk dalam proses, dan sediaan bahan baku. Penyajian kelompok sediaan tersebut dalam neraca berdasarkan urutan likuiditasnya.
  6. Perjanjian pembelian harus dijelaskan dalam laporan keuangan, jika jumlahnya material ataupun bersifat luar biasa.
  7. Cadangan untuk menghadapi kemungkinan turunnya harga sediaan setelah tanggal neraca harus dibentuk dengan menyelisihkan sebagian laba yang ditahan. Cadangan ini tidak boleh dikurangkan dari sediaan, namun harus disajikan sebagai pengurang akun Laba Ditahan.

2.2 TUJUAN PENGUJIAN SUBSTANTIF TERHADAP SEDIAAN

 

Tujuan audit terhadap sediaan :

  1. Memperoleh keyakinan tentang keadaan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan sediaan.
  2. Membuktikan asersi keberadaan sediaan yang dicantumkan di neraca dan keterjadiaan transaksi yang berkaitan dengan sediaan.
  3. Membuktikan asersi kelengkapan transaksi yang berkaitan dengan sediaan yang dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo sediaan yang disajikan di neraca.
  4. Membuktikan asersi hak kepemilikan klien atas sediaan yang dicantumkan di neraca.
  5. Membuktikan asersi penilaian sediaan yang dicantumkan di neraca.
  6. Membuktikan asersi penyajian dan pengungkapan sediaan di neraca.

Tujuan utama pengujian substantif terhadap sediaan adalah membutikan bahwa saldo akun sediaan yang dicantumkan dineraca mencerminkan saldo akun sediaan produk jadi, sediaan suku cadang, sediaan bahan habis pakai pabrik yang sesungguhnya pada tanggal neraca tersebut.

  1. Prosedur audit awal
  2. Prosedur analitik
  3. Pengujian terhadap transaksi rinci
  4. Pengujian terhadap saldo akun rinci
  5. Verifikasi terhadap penyajian dan pengungkapan.

Kelima kelompok substanfit bersebut ditujukan untuk memvertifikasikan lima asersi manajemen yang terkandung dalam akun modal saham dan akun penilaiannya :

  1. Keberadaan dan keterjadian
  2. Kelengkapan
  3. Hak kepemilikan
  4. Penilaian
  5. Penyajian dan pengungkapan

Penjelasan mengenai tujuan audit terhadap sediaan :

a)     Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan sediaan.

Sebelum auditor melakukan pengujian substantive terhadap kewajaran saldo sdiaan kas yang dicantumkan di neraca, ia harus memperoleh keyakinan mengenai ketelitian dan keandalan catatan akuntasi yang mendukung informasi sediaan yang disajikan di neraca. Untuk itu auditor melakukan rekonsiliasi antara saldo sediaan yang dicantumkan di neraca dengan akun sediaan di buku besar dan selanjutnya ke jurnal pembelian atau register bukti kas keluar, jurnal pengeluaran kas atau  check register, jurnal pemakaian bahan baku, jurnal umum dan ke buku pembantu sediaan.

 

b)     Membuktikan asersi keberadaan sediaan yang dicantumkan di neraca dan keterjadiaan transaksi yang berkaitan dengan sediaan.

Pengujian ditujukan untuk menguji apakah aktiva yang dicantumkan di neraca sesuai dengan aktiva sesungguhnya yang dimiliki klien. Auditor harus melakukan berbagai prosedur audit guna membuktikan eksistensi aktiva yang bersangkutan dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan aktiva tersebut, membuktikan kepemilikan atas aktiva tersebut, membuktikan kewajaran penilaian aktiva tersebut pada tanggal neraca, membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan aktiva tersebut dalam laporan keuangan.

Dalam hubungannya dengan pengujian substantif terhadap sediaan salah satu tujuan auditornya adalah untuk membuktikan asersi keberadaan sediaan yang dicantumkan di neraca dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan sediaan. Untuk membuktikan asersi tersebut auditor melakukan pengujian substantif berikut ini :

  • Prosedur analitik
  • Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan sediaan
  • Pengujian pisah batas transaksi yang berkaitan dengan sediaan
  • Pengamatan terhadap penghitungan fisik sediaan
  • Konfirmasi sediaan yang berada di pihak luar

c)     Membuktikan asersi kelengkapan transaksi yang berkaitan dengan sediaan yang dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo sediaan yang disajikan di neraca.

Untuk membuktikan bahwa saldo sediaan yang dicantumkan di neraca mencakup semua sediaan pada tanggal neraca dan mencakup semua transaksi yang berkaitan dengan sediaan dalam tahun yang diaudit, maka auditor harus melakukan berbagai pengujian audit substantif berikut :

  • Prosedur analitik
  • Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan sediaan
  • Pengujian pisah batas transaksi yang berkaitan dengan sediaan
  • Pengamatan terhadap penghitungan fisik sediaan
  • Konfirmasi sediaan yang berada di pihak luar

d)     Membuktikan asersi hak kepemilikan klien atas sediaan yang dicantumkan di neraca.

Sediaan yang ada pada tanggal neraca belum tentu merupakan hak milik klien, karena sediaan yang ada di tangan klien merupakan barang titipan perusahaan lain atau digadaikan sebagai jaminan. Untuk membuktikan asersi tersebut , auditor harus melakukan pengujian substanfit berikut :

  • Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan sediaan
  • Pengujian pisah batas transaksi yang berkaitan dengan sediaan
  • Konfirmasi sediaan yang berada di tangan pihak luar
  • Pemeriksaan perjanjian konsinyasi

e)     Membuktikan asersi penilaian sediaan yang dicantumkan di neraca.

Seperti disebutkan dalam prinsip akuntansi berterima umum dalam penyajian sediaan di neraca, sediaan harus disajikan di necara saat nilainya pada tanggal neraca. Nilai sediaan yang di sajikan di neraca harus dipilih antara mana yang lebih rendah antara kos dengan harga pasar sediaan tersebut pada tanggal neraca. Salah satu tujuan pengujian substantif sediaan adalah membuktikan kewajaran inventory costing dan inventory pricing yang digunakan oleh klien dalam mencantumkan nilai sediaan di neraca. Untuk membuktikannya asersi penilaian sediaan yang cantumkan di neraca, auditor melakukan pengujian substantif berikut ini :

  • Pengujian analtik
  • Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan sediaan
  • Pengamatan terhadap perhitungan fisik sediaan
  • Permintaan informasi mengenai metode penilaian sediaan yang digunakan oleh klien
  • Pemeriksaan kesesuaian kos per satuan seediaan dengan prinsip akuntansi berterima umum
  • Pelaksanaan gross-profit test
  • Meminta surat representasi sediaan klien

f)      Membuktikan asersi penyajian dan pengungkapan sediaan di neraca.

Pengujian substantive terhadap sediaan diarahkan untuk mencapai salah satu tujuan membuktikan apakah unsure sediaan telah disajikan dan digunakan oleh klien di neracanya sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum.

Untuk membuktikan asersi penyajian dan pengungkapan sediaan yang dicantumkan di neraca, auditor melakukan pengujian substantif berikut ini :

  • Pemeriksaan terhadap perjanjian konsinyasi
  • Pemeriksaan penggolongan sediaan di neraca
  • Pemeriksaan pengungkapan sediaan di neraca

 

 

 

Credit by : Riska Haryati Seilya

Posted by : @seilyariskyu [www.riskaseilya.wordpress.com]

TAKE OUT WITH FULL & PROPER CREDIT

ALWAYS CREDIT ‘RISKASEILYA.WORDPRESS.COM’ AS WELL. Thank you

120401 Infinite – Second Invasion Evolution [28P]

Published April 3, 2012 by seilyariskyu

 

CREDIT : takemyhand

CREDIT : Pluto

CREDIT : applemint

CREDIT : PicsHere

CREDIT : REPUTATION

CREDIT : maboyhyun

 

CREDIT : http://alwaysl.tistory.com/

CREDIT : http://finite-in.net/

CREDIT : http://www.20100609.net/

CREDIT : http://infinitesoul.wordpress.com

CREDIT : http://nwh9128.com/

 

CREDIT : @InfiniteUpdate on Twitter

CREDIT : @SungYeolBiased on Twitter

CREDIT : @eLement on Twitter

CREDIT : @WooHyunBiased on Twitter

 

Posted by : @seilyariskyu [www.riskaseilya.wordpress.com]

TAKE OUT WITH FULL & PROPER CREDIT

ALWAYS CREDIT ‘RISKASEILYA.WORDPRESS.COM’ AS WELL. Thank you

 

120329 H-29 SS4 di Jakarta – Promotor umumkan Harga Tiket dan Seat Plan

Published Maret 29, 2012 by seilyariskyu

Jakarta – Rangkaian dari Super Junior World Tour bertajuk SUPER SHOW 4 akan tiba di Indonesia tanggal 28 dan 29 April mendatang. Hari ini, Kamis (29/3/2012) Promotor Showmaxx Entertainment mengumumkan harga tiket resminya.


Super Junior menggunakan panggung yang sama dengan panggung Super Show 4 dikota lainnya. Panggung dibuat melingkari arena konser. Dengan permainan efek dan tatanan cahaya yang tak pernah terbayangkan, diprediksi konser ini akan terhitung konser terWAAAAH di Indonesia (MASUK REKOK MURI OKE JUGA)

Konser akan digelar selama 2 hari di Mata Elang International Stadium (MEIS), Ancol, Jakarta Utara pada 28 dan 29 April. Berikut harga tiketnya:
Super Box dan Super Fest (festival): Rp 1,7 juta (USD 180)
Junior VIP Seat (numbered seating): Rp 1,4 juta (USD 150)
Super VIP Seat (numbered seating): Rp 2 juta (USD 212)
Super Sky Seat (numbered seating): Rp 1 juta (USD 106)
Junior Sky Seat (free seating): Rp 500 ribu (USD 53)

Tidak seperti SS4 di negara lain, SS4 di Indonesia kali ini terdapat perbedaan 2 Member dari SJ-M Henry dan Zoumi serta f(x) tidak akan ikut menemani Super Junior dalam tour kali ini. Tapi digantikan dengan EXO-M artis satu agensi mereka juga.

 

 

 

Credit by : Riska Haryati Seilya

Posted by : @seilyariskyu [www.riskaseilya.wordpress.com]

TAKE OUT WITH FULL & PROPER CREDIT

ALWAYS CREDIT ‘RISKASEILYA.WORDPRESS.COM’ AS WELL. Thank you

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.