120403 AUDIT TERHADAP SIKLUS PRODUKSI PENGUJIAN DAN PENGENDALIAN TERHADAP SALDO SEDIAAN | Part.1

Published April 3, 2012 by seilyariskyu

BAB.I

PENDAHULUAN

 

1.1 DISKRIPSI SEDIAAN

Sediaan merupakan unsur aktiva yang disimpan dengan tujuan untuk dijual dalam kegiatan bisnis yang normal ataupun barang-barang yang akan dikonsumsi dalam pengolahan produk yang akan dikonsumsi dalam pengolahan produk yang akan dijual. Didalam perusahaan dagang, sediaan terutama terdiri dari sediaan barang dagang. Sedangkan dalam perusahaan manufaktur sediaan terdiri dari sediaan bahan baku dan bahan penolong, sediaan produk dalam proses, sediaan produk jadi, sediaan suku cadang dan bahan habis pakai pabrik.

Sediaan umumnya mendapat perhatian yang lebih besar dari auditordidalam proses auditnya karena berbagai alasan, sebagai berikut :

  • Umumnya sediaan merupakan komponen aktiva lancar yang jumlahnya cukup material dan merupakan objek manipulasi serta tepat terjadinya kesalahan-kesalahan besar.
  • Penentuan besarnya nilai sendiaan secara langsung mempengaruhi kos barang yang dijual sehingga berpengaruh pula terhadap perhitungan laba tahun yang bersangkutan.
  • Vertifikasi kuantitas, kondisi dan nilai sediaan merupakan tugas yang lebih kompleks dan sulit dibandingkan dengan vertifikasi sebagaian besar unsur laporan keuangan yang lain.
  • Seringkali sediaan disimpan di berbagai tempat sehingga menyulitkan pengawasan dan penghitungan fisiknya.
  • Adanya berbagai macam sediaan menimbulkan kesulitan bagi auditor dalam melaksanakan auditnya.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah yang akan diangkat dalam makalah ini yaitu:

  1. Apa saja prinsip akuntansi berterima umum dalam penyajian sediaan dalam neraca.
  2. Apa-apa yang menjadi tujuan pengujian substantif terhadap sediaan.
  3. Apa saja yang menjadi program pengujian substantif terhadap saldo sediaan.

1.3 TUJUAN PEMBUATAN MAKALAH

Makalah ini kami buat dengan tujuan sebagai pertanggung jawaban tertulis dari seseorang /sekelompok orang yang diberi tugas kepada pemberi tugas. Kami juga berharap dengan makalah ini dapat bemanfaat bagi pembaca yang memerlukan informasi mengenai audit terhadap siklus produksi: pengujian dan pengendalian substantive terhadap saldo sediaan. Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan makalah ini yaitu:

  1. Untuk mengetahui prinsip akuntansi berterima umum dalam penyajian sediaan dalam neraca.
  2. Untuk mengetahui tujuan pengujian substantive terhadap sediaan
  3. Untuk mengetahui program pengujian substantif terhadap saldo sediaan.

BAB.II

POKOK BAHASAN

 

2.1 PRINSIP AKUNTANSI BERTERIMA UMUM DALAM PENYAJIAN SEDIAAN DALAM NERACA

Sebelum membahas pengujian substantif terhadap sediaan, perlu diketahui lebih dahulu prinsip akuntansi berterima umum dalam penyajian sediaan di neraca berikut ini :

  1. Laporan keuangan harus menjelaskan bahwa sediaan dinilai dengan lower of cost or market dan harus menyebutkan metode yang digunakan dalam menentukan kos sediaan.
  2. Jika sediaan dinyatakan pada kosnya, nilai pasarnya pada tanggal neraca harus dicantumkan dalam tanda kurung, dan jika sediaan diturunkan nilai pada harga pasarnya, kosnya harus dicantumkan dalam tanda kurung juga. Kos pengganti ini (current replacement cost) harus dicantumkan dalam laporan keuangan untuk sediaan yang kosnya ditentukan berdasarkan metode masuk terakhir keluar pertama (MTKP/LIFO).
  3. Akibat perubahan metode penilaian sediaan terhadap perhitungan rugi laba tahun yang diaudit harus dijelaskan dalam laporan keuangan dan auditor harus menyatakan pengecualian mengenai konsistensi penerapan prisip akuntansi berterima umum dalam laporan audit.
  4. Penjelasan yang lengkap harus dibuat dalam laporan keuangan jika sediaan digadaikan sebagai jaminan utang yang ditarik oleh klien.
  5. Jika jumlahnya material, sediaan dalam perusahaan manufaktur harus dikelompokkan dalam kelompok  utama yaitu sediaan produk jadi, sediaan produk dalam proses, dan sediaan bahan baku. Penyajian kelompok sediaan tersebut dalam neraca berdasarkan urutan likuiditasnya.
  6. Perjanjian pembelian harus dijelaskan dalam laporan keuangan, jika jumlahnya material ataupun bersifat luar biasa.
  7. Cadangan untuk menghadapi kemungkinan turunnya harga sediaan setelah tanggal neraca harus dibentuk dengan menyelisihkan sebagian laba yang ditahan. Cadangan ini tidak boleh dikurangkan dari sediaan, namun harus disajikan sebagai pengurang akun Laba Ditahan.

2.2 TUJUAN PENGUJIAN SUBSTANTIF TERHADAP SEDIAAN

 

Tujuan audit terhadap sediaan :

  1. Memperoleh keyakinan tentang keadaan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan sediaan.
  2. Membuktikan asersi keberadaan sediaan yang dicantumkan di neraca dan keterjadiaan transaksi yang berkaitan dengan sediaan.
  3. Membuktikan asersi kelengkapan transaksi yang berkaitan dengan sediaan yang dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo sediaan yang disajikan di neraca.
  4. Membuktikan asersi hak kepemilikan klien atas sediaan yang dicantumkan di neraca.
  5. Membuktikan asersi penilaian sediaan yang dicantumkan di neraca.
  6. Membuktikan asersi penyajian dan pengungkapan sediaan di neraca.

Tujuan utama pengujian substantif terhadap sediaan adalah membutikan bahwa saldo akun sediaan yang dicantumkan dineraca mencerminkan saldo akun sediaan produk jadi, sediaan suku cadang, sediaan bahan habis pakai pabrik yang sesungguhnya pada tanggal neraca tersebut.

  1. Prosedur audit awal
  2. Prosedur analitik
  3. Pengujian terhadap transaksi rinci
  4. Pengujian terhadap saldo akun rinci
  5. Verifikasi terhadap penyajian dan pengungkapan.

Kelima kelompok substanfit bersebut ditujukan untuk memvertifikasikan lima asersi manajemen yang terkandung dalam akun modal saham dan akun penilaiannya :

  1. Keberadaan dan keterjadian
  2. Kelengkapan
  3. Hak kepemilikan
  4. Penilaian
  5. Penyajian dan pengungkapan

Penjelasan mengenai tujuan audit terhadap sediaan :

a)     Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan sediaan.

Sebelum auditor melakukan pengujian substantive terhadap kewajaran saldo sdiaan kas yang dicantumkan di neraca, ia harus memperoleh keyakinan mengenai ketelitian dan keandalan catatan akuntasi yang mendukung informasi sediaan yang disajikan di neraca. Untuk itu auditor melakukan rekonsiliasi antara saldo sediaan yang dicantumkan di neraca dengan akun sediaan di buku besar dan selanjutnya ke jurnal pembelian atau register bukti kas keluar, jurnal pengeluaran kas atau  check register, jurnal pemakaian bahan baku, jurnal umum dan ke buku pembantu sediaan.

 

b)     Membuktikan asersi keberadaan sediaan yang dicantumkan di neraca dan keterjadiaan transaksi yang berkaitan dengan sediaan.

Pengujian ditujukan untuk menguji apakah aktiva yang dicantumkan di neraca sesuai dengan aktiva sesungguhnya yang dimiliki klien. Auditor harus melakukan berbagai prosedur audit guna membuktikan eksistensi aktiva yang bersangkutan dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan aktiva tersebut, membuktikan kepemilikan atas aktiva tersebut, membuktikan kewajaran penilaian aktiva tersebut pada tanggal neraca, membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan aktiva tersebut dalam laporan keuangan.

Dalam hubungannya dengan pengujian substantif terhadap sediaan salah satu tujuan auditornya adalah untuk membuktikan asersi keberadaan sediaan yang dicantumkan di neraca dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan sediaan. Untuk membuktikan asersi tersebut auditor melakukan pengujian substantif berikut ini :

  • Prosedur analitik
  • Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan sediaan
  • Pengujian pisah batas transaksi yang berkaitan dengan sediaan
  • Pengamatan terhadap penghitungan fisik sediaan
  • Konfirmasi sediaan yang berada di pihak luar

c)     Membuktikan asersi kelengkapan transaksi yang berkaitan dengan sediaan yang dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo sediaan yang disajikan di neraca.

Untuk membuktikan bahwa saldo sediaan yang dicantumkan di neraca mencakup semua sediaan pada tanggal neraca dan mencakup semua transaksi yang berkaitan dengan sediaan dalam tahun yang diaudit, maka auditor harus melakukan berbagai pengujian audit substantif berikut :

  • Prosedur analitik
  • Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan sediaan
  • Pengujian pisah batas transaksi yang berkaitan dengan sediaan
  • Pengamatan terhadap penghitungan fisik sediaan
  • Konfirmasi sediaan yang berada di pihak luar

d)     Membuktikan asersi hak kepemilikan klien atas sediaan yang dicantumkan di neraca.

Sediaan yang ada pada tanggal neraca belum tentu merupakan hak milik klien, karena sediaan yang ada di tangan klien merupakan barang titipan perusahaan lain atau digadaikan sebagai jaminan. Untuk membuktikan asersi tersebut , auditor harus melakukan pengujian substanfit berikut :

  • Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan sediaan
  • Pengujian pisah batas transaksi yang berkaitan dengan sediaan
  • Konfirmasi sediaan yang berada di tangan pihak luar
  • Pemeriksaan perjanjian konsinyasi

e)     Membuktikan asersi penilaian sediaan yang dicantumkan di neraca.

Seperti disebutkan dalam prinsip akuntansi berterima umum dalam penyajian sediaan di neraca, sediaan harus disajikan di necara saat nilainya pada tanggal neraca. Nilai sediaan yang di sajikan di neraca harus dipilih antara mana yang lebih rendah antara kos dengan harga pasar sediaan tersebut pada tanggal neraca. Salah satu tujuan pengujian substantif sediaan adalah membuktikan kewajaran inventory costing dan inventory pricing yang digunakan oleh klien dalam mencantumkan nilai sediaan di neraca. Untuk membuktikannya asersi penilaian sediaan yang cantumkan di neraca, auditor melakukan pengujian substantif berikut ini :

  • Pengujian analtik
  • Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan sediaan
  • Pengamatan terhadap perhitungan fisik sediaan
  • Permintaan informasi mengenai metode penilaian sediaan yang digunakan oleh klien
  • Pemeriksaan kesesuaian kos per satuan seediaan dengan prinsip akuntansi berterima umum
  • Pelaksanaan gross-profit test
  • Meminta surat representasi sediaan klien

f)      Membuktikan asersi penyajian dan pengungkapan sediaan di neraca.

Pengujian substantive terhadap sediaan diarahkan untuk mencapai salah satu tujuan membuktikan apakah unsure sediaan telah disajikan dan digunakan oleh klien di neracanya sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum.

Untuk membuktikan asersi penyajian dan pengungkapan sediaan yang dicantumkan di neraca, auditor melakukan pengujian substantif berikut ini :

  • Pemeriksaan terhadap perjanjian konsinyasi
  • Pemeriksaan penggolongan sediaan di neraca
  • Pemeriksaan pengungkapan sediaan di neraca

 

 

 

Credit by : Riska Haryati Seilya

Posted by : @seilyariskyu [www.riskaseilya.wordpress.com]

TAKE OUT WITH FULL & PROPER CREDIT

ALWAYS CREDIT ‘RISKASEILYA.WORDPRESS.COM’ AS WELL. Thank you

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: